20 Apr 2010

kilas balik sang pejuang kaum hawa



Kartini adalah potret tragis perempuan di awal abad ke-20, ketika harkat perempuan dimaknai sebatas kanca wingking (subordinat) yang berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Hari-hari hidupnya menggambarkan penderitaan kaum perempuan yang terpasung dalam tembok tradisi dan adat istiadat masyarakat feodal-patriarkal yang begitu angkuh dan kukuh. Dari pelarangan belajar, adanya pingitan, hingga harus siap dipoligami oleh suami dengan alih-alih berbakti, semakin memagari gerak lincah Si Jaran Kore (Si Kuda Liar) dari Mayong, Jepara itu.



Kartini ingin mendobrak tradisi feodal-patriarkal yang menghambat kemajuan kaumnya menuju masa depan yang lebih cerdas, cemerlang, dan merdeka. Untuk itu, pendidikan menjadi keniscayaan demi mengangkat derajat perempuan dan martabat Indonesia sebagai bangsa. Sebab, pengajaran kepada perempuan secara tidak langsung akan meningkatkan martabat bangsa. “Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata”, begitu tulis Kartini kepada teman korespondensinya, Rosa Manuela Mandris Abendanon.

Namun, cita-cita Kartini terlalu modern untuk zamannya. Apa yang dilakukannya dianggap tabu dan bersilang selimpat dengan nalar kolektif yang terbingkai apik dalam adat istiadat dengan legitimasi agama. Inilah yang membuat Kartini mempertanyakan agama yang dijadikan pembenar kaum laki-laki untuk berpoligami saat itu. Kenyataan ini seakan-akan menelungkupkan kehidupan perempuan dalam nestapa penderitaan: tak saja berdunia sebatas tembok rumah, tapi harus bersedia dimadu pula. Sejatinya “Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali persaudaraan di antara semua makhluk Allah, berkulit putih dan coklat. Tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki, kepercayaan semuanya kita ini anak Bapa yang Satu itu, Tuhan Yang Maha Esa!”

“(Hal-hal) seperti inilah yang membuat kami demikian lama membelakangi agama karena kami banyak sekali melihat peristiwa yang menunjukkan ketiadaan kasih sayang yang dilakukan orang-orang dengan kedok agama. Lambat laun, barulah kami tahu, bukan agama yang tiada kasih sayang, melainkan manusia jugalah yang membuat buruk segala sesuatu yang semula bagus dan suci itu. Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci adalah kasih sayang. Dan, untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seseorang menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan kafir pun dapat juga hidup dengan kasih sayang yang murni”.

Tapi, tragedi memang tidak pernah sendirian. Ia selalu datang membawa temannya. Di tengah gigihnya Kartini memperjuangkan hak-hak kaumnya untuk memangkas berbagai diskriminasi yang dia benci di masa kecilnya, dan ketidakadilan yang terjadi pada ibunya, akhirnya menjadi takdirnya juga. Hatinya hancur saat ayahnya, R.M.A.A. Sosroningrat, menerima pinangan bupati Rembang. “Saya (kini) adalah tunangan Bupati Rembang, seorang duda dengan tujuh anak dan dua istri (selir)…. Saya seperti ribuan (perempuan) lainnya yang hendak saya tolong, tetapi yang (ternyata) jumlahnya hanya saya tambah saja.”

Kartini sadar, semua penderitaan yang menimpanya itu tak lepas dari hukum alam bagi siapa saja yang ingin melahirkan pencerahan. “Siapa pun yang terpilih oleh nasib menjadi ibu ruhani untuk melahirkan yang baru harus menanggung derita. Ini adalah hukum alam siapa yang melahirkan harus menanggung kesakitan saat melahirkan bayi yang teramat sangat kami cintai.”

Terlepas dari penderitaan tersebut, sudah seyogianya semangat dan serakan pemikiran Kartini yang tertuang dalam berbagai buku dan catatan-catatannya kita refleksikan. Dengan begitu, kita bisa meneruskan perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, tentunya sesuai dengan kapasitas dan potensi kita masing-masing, laki-laki maupun perempuan.



sumber: KOMPASIANA

1 komentar:

  1. sekarang perempuan banyak yang jadi pejabat yang lupa asal usulnya, juga banyak yang jadi penjahat...

    BalasHapus