20 Apr 2010

kilas balik sang pejuang kaum hawa



Kartini adalah potret tragis perempuan di awal abad ke-20, ketika harkat perempuan dimaknai sebatas kanca wingking (subordinat) yang berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Hari-hari hidupnya menggambarkan penderitaan kaum perempuan yang terpasung dalam tembok tradisi dan adat istiadat masyarakat feodal-patriarkal yang begitu angkuh dan kukuh. Dari pelarangan belajar, adanya pingitan, hingga harus siap dipoligami oleh suami dengan alih-alih berbakti, semakin memagari gerak lincah Si Jaran Kore (Si Kuda Liar) dari Mayong, Jepara itu.


Kartini ingin mendobrak tradisi feodal-patriarkal yang menghambat kemajuan kaumnya menuju masa depan yang lebih cerdas, cemerlang, dan merdeka. Untuk itu, pendidikan menjadi keniscayaan demi mengangkat derajat perempuan dan martabat Indonesia sebagai bangsa. Sebab, pengajaran kepada perempuan secara tidak langsung akan meningkatkan martabat bangsa. “Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata”, begitu tulis Kartini kepada teman korespondensinya, Rosa Manuela Mandris Abendanon.

Namun, cita-cita Kartini terlalu modern untuk zamannya. Apa yang dilakukannya dianggap tabu dan bersilang selimpat dengan nalar kolektif yang terbingkai apik dalam adat istiadat dengan legitimasi agama. Inilah yang membuat Kartini mempertanyakan agama yang dijadikan pembenar kaum laki-laki untuk berpoligami saat itu. Kenyataan ini seakan-akan menelungkupkan kehidupan perempuan dalam nestapa penderitaan: tak saja berdunia sebatas tembok rumah, tapi harus bersedia dimadu pula. Sejatinya “Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali persaudaraan di antara semua makhluk Allah, berkulit putih dan coklat. Tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki, kepercayaan semuanya kita ini anak Bapa yang Satu itu, Tuhan Yang Maha Esa!”

“(Hal-hal) seperti inilah yang membuat kami demikian lama membelakangi agama karena kami banyak sekali melihat peristiwa yang menunjukkan ketiadaan kasih sayang yang dilakukan orang-orang dengan kedok agama. Lambat laun, barulah kami tahu, bukan agama yang tiada kasih sayang, melainkan manusia jugalah yang membuat buruk segala sesuatu yang semula bagus dan suci itu. Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci adalah kasih sayang. Dan, untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seseorang menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan kafir pun dapat juga hidup dengan kasih sayang yang murni”.

Tapi, tragedi memang tidak pernah sendirian. Ia selalu datang membawa temannya. Di tengah gigihnya Kartini memperjuangkan hak-hak kaumnya untuk memangkas berbagai diskriminasi yang dia benci di masa kecilnya, dan ketidakadilan yang terjadi pada ibunya, akhirnya menjadi takdirnya juga. Hatinya hancur saat ayahnya, R.M.A.A. Sosroningrat, menerima pinangan bupati Rembang. “Saya (kini) adalah tunangan Bupati Rembang, seorang duda dengan tujuh anak dan dua istri (selir)…. Saya seperti ribuan (perempuan) lainnya yang hendak saya tolong, tetapi yang (ternyata) jumlahnya hanya saya tambah saja.”

Kartini sadar, semua penderitaan yang menimpanya itu tak lepas dari hukum alam bagi siapa saja yang ingin melahirkan pencerahan. “Siapa pun yang terpilih oleh nasib menjadi ibu ruhani untuk melahirkan yang baru harus menanggung derita. Ini adalah hukum alam siapa yang melahirkan harus menanggung kesakitan saat melahirkan bayi yang teramat sangat kami cintai.”

Terlepas dari penderitaan tersebut, sudah seyogianya semangat dan serakan pemikiran Kartini yang tertuang dalam berbagai buku dan catatan-catatannya kita refleksikan. Dengan begitu, kita bisa meneruskan perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, tentunya sesuai dengan kapasitas dan potensi kita masing-masing, laki-laki maupun perempuan.



sumber: KOMPASIANA Seteruse......

13 Apr 2010

JENGISKAN DAN HANCURNYA SEBUAH PERADABAN

(Sebuah Analisis Sejarah)

DRS. BAHRUM SALEH, M.AG.




BAB I
PENDAHULUAN

1.Latar Belakang.
Ratusan ribu mayat tanpa kepala berserakan dan tumpang tindih
memenuhi jalan-jalan, parit-parit dan lapangan-lapangan. Disekitarnya
bangunan-bangunan megah dan indah banyak yang tinggal puing-puing
dan rerontokan. Asap masih mengepul dari bangunan-bangunan yang
dibakar. Tentara dari pangkat rendah sampai tinggi sibuk memenggal
kepala ribuan manusia dan kemudian memisahkan kepala yang terpisah
dari tubuhnya itu menurut kelompok: kepala wanita, anak-anak, orang
tua, dipisahkan satu dari yang lain. Sungai Dajlah atau Tigris berubah
menjadi hitam disebabkan tinta ribuan manuskrip yang dilempar ke
dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, mesjid, madrasah, tempat
pemandian dan rumah para bangsawan, toko dan rumah makan –
semuanya dihancurkan.





Demikianlah, kota yang selama beberapa abad menjadi pusat
terbesar peradaban Islam itupun musnah dalam sekejap mata. Setelah
puas, pasukan penakluk itupun bersiap-siap pergi tanpa penyesalan
sedikitpun. Mereka kini hanya sibuk mengumpulkan barang-barang
jarahan yang berharga: timbunan perhiasan yang tak ternilai
harganya, berkilo-kilo batangan emas dan uang dinar, batu permata,
intan berlian – semua dimasukkan ke dalam ratusan karung dan
kemudian diangkut dalam iringan gerobak dan kereta yang sangat
panjang.

Penyair Sa’idi (1184 – 1291) pernah menyaksikan peristiwa
serupa sebelumnya, yaitu di kota Shiraz. Dia berhasil menyelamatkan
diri dan merekam peristiwa yang dia saksikan dalam sajaknya:

Maka langit pun mencurahkan
Hujan lebat darah ke atas bumi
Dan kebinasaan menyapu bersih
Kerajaan al-Mu’tasim, khalifah orang mukmin
Ya Muhammad ! Apabila hari pengadilan datang
Angkutlah kepala tuan dan lihat
Kesengsaraan umatmu ini !

Saksi lain menulis para musisi dan penyanyi dipanggil agar
bernyanyi dengan riang gembira, sementara bangsawan-bangsawan
kota diperintahkan merawat kuda-kuda mereka. Kitab salinan al-Qur’an
yang tidak ternilai harganya dilempar dan diinjak-injak. Juwa1yni ,
©2003 Digitized by USU digital library 2
seorang sejarawan abad ke-13, yang berhasil melarikan diri dari
Bukhara ketika kota itu diserang beberapa tahun sebelumnya, melihat
bagaimana kota kelahiran Imam Bukhari ahli hadis yang masyhur itu
diratakan dengan tanah. Tulis Juwayni: “Mereka datang, merusak,
menghancurkan, membunuh, memperkosa wanita muda, dan tua,
menjarah harta, dan akhirnya pergi dengan tenang dan puas hati.”

Demikian gambaran sekilas kebengisan dan teror yang dilakukan
tentara Mongol di lebih separo daratan Asia dan Eropa Timur sejak
awal hingga pertengahn abad ke-13 M. Baghdad, Ibukota kekhalifahan
Abbasiyah, mendapat giliran agak akhir, pada bulan Februari 1258 M.
Serbuan kali ini dirancang dari Transoxania di Asia Tengah dan
dipimpin salah seorang cucu Jengis Khan yang tidak kalah bengis dari
kakeknya. Di antara catatan sejarah mengenai kebiadaban orang-orang
Mongol ialah catatan sejarawan terkemuka Ibnu ‘Athir (w. 1231 M) dan
ahli Geografi Yaqut al-Hamawi (w.1229 ). Menurut mereka, tokoh-
tokoh muslim terkemuka, amir, panglima perang, tabib, ulama,
budayawan, ilmuan, cendekiawan, ahli ekonomi dan politik, serta
saudagar kaya – tewas dalam keadaan mengenaskan. Kepala mereka
dipenggal, dipisahkan dari badan, karena khawatir ada yang masih
hidup dan berpura-pura mati.

Timbul pertanyaan: jenis manusia dan bangsa macam apakah
orang-orang Mongol pada abad ke-13 itu ? Mengapa mereka tiba-tiba
muncul menjadi kekuatan yang menggemparkan dunia beradab dan
dapat menaklukkan wilayah yang sangat luas. Dari ujung timur negeri
Cina sampai ujung barat Polandia, dari batas utara Rusia hingga batas
selatan teluk Parsi – semua ditundukkan dan dikuasai hanya dalam
waktu kurang lebih 40 tahun ?

1. Riwayat Jengis Khan

Untuk mengenal watak suatu bangsa, dan kekuatan bangsa
tersebut dalam kurun sejarah tertentu, kita dapat bercermin pada
pemimpinnya dan bagaimana pemimpin tersebut menempa serta
mengorganisasi bangsanya. Tokoh sentral bangsa Mongol pada abad
ke-13 M adalah Jengis Khan serta anak cucunya yang perkasa seperti
Ogotai, Batu, Hulagu dan Kubilai Khan. Jengis telah berhasil
mempimpin bangsa Mongol menaklukkan daratan Asia yang
menyebabkan keturunannya memerintah dan menguasai negeri-negeri
yang ditaklukkannya itu selama berabad-abad. Dialah yang menempa
bangsa Mongol menjadi bangsa yang tangguh, berani dan nekad.

Namanya ketika kecil adalah Temujin. Ayahnya Yasugei, adalah
seorang Khan (raja) yang mengepalai 13 kelompok suku Borjigin, salah
satu suku utama Mongol – Turk yang paling berapi dan gagah perkasa.
Sebagai Khan kecil, Yasugei tunduk kepada Khan yang lebih tinggi,
Utaq Khan. Ketika Temujin berusia 13 tahun terjadilah perebutan
kekuasaan dalam suku Borjigin. Ayahnya mati terbunuh disebabkan
panah beracun Dario salah seorang lawan politiknya. Karena masih
muda, Temujin tidak diakui sebagai penggantinya. Malahan
keselamatan dirinya serta ibu dan adik-adiknya terancam.

Keluarga Yasugei melarikan diri dan mendapat perlindungan
salah seorang saudaranya dari suku Nainan. Pada tahun 1182 Temujin
menjadi remaja yang tangkas serta berani, dan berhasil
mempersunting salah seorang putri keluarga terkemuka suku itu, yaitu
Bortai. Bortai mendampingi Temujin sampai akhir hayat dan setia
mengikuti suaminya ke daerah-daerah peperangan.

Bakat Temujin sebagai pemimpin telah kelihatan pada waktu
berusia 20 tahun. Segala beluk ilmu perang dia pelajari, begitu pula
ketangkasan menunggang kuda dan penggunaan segala jenis senjata
perang. Secara diam-diam mengumpulkan para pengikut ayahnya dan
melatih mereka dengan disiplin keras. Pada waktu yang tepat diapun
©2003 Digitized by USU digital library 4
menyerang bekas lawan politik ayahnya dan berhasil merebut kembali
kedudukannya sebagai khan suku Borjigin. Tidak berapa lama setelah
itu dia berhasil pula menyatukan suku-suku Mongol dan Turk yang
terpencar-pencar di wilayah luas antara sungai Dzungaria dan Irtish.
Pada tahun 1202 huraltai, majlis besar suku-suku Mongol, memberi
pengakuan kepada Temujin sebagai khan seluruh orang Mongol dengan
gelar Jengis Khan. Artinya raja diraja dan dalam bahasa Arab disebut
Sayyid al-Mutlaq.

Salah satu faktor keberhasilan Jengis Khan ialah kebengisan dan
kekejamannya dalam memperlakukan lawan-lawan politik yang
dikalahkannya. Apabila pihak lawan telah ditundukkan, para
pemimpinnya lantas ditangkap dan kemudian direbus hidup-hidup
dalam air panas yang sedang mendidih dalam belanga besar.
Pengangkatannya sebagai khan besar seluruh orang Mongol semakin
memperkuat keyakinan dirinya dan keyakinan bahwa pasukan
tentaranya sangat kuat. Inilah yang mendorong Jengis mulai berpikir
bagaimana menaklukkan negeri-negeri disekitarnya yang wilayahnya
sangat luas dan makmur, seperti Cina, Khwarizmi di Asia tengah,
Persia, India, India utara serta Eropa Timur.

Jengis mulai melatih lebih keras pasukan tentaranya, dia
merekrut sebanyak-banyaknya orang Mongol dari berbagai suku dan
mengorganisasikannya menjadi kekuatan militer yang besar.
Tentaranya dilatih dengan disiplin keras. Teknik-teknik teror dan
kekejaman yang canggih juga diajarkan kepada mereka. Percobaan
pertama untuk menguji keunggulan tentaranya ialah dengan menyerbu
Cina Utara yang dikuasai bangsa Kin. Alasan penyerbuan cukup kuat:
Bangsa Kin sering menyerang Mongol (Tartar) karena menganggap
mereka bangsa biadab. Dalam serangan itu sudah banyak pemimpin
Mongol dibunuh dengan cara yang kejam. Ratusan tahun orang Mongol
menyimpan dendam itu. Dalam serbuan yang dipimpin Temujin tentara
Mongol dengan mudah sekali dapat menundukkan Cina Utara. Penduduk
dan pemimpin mereka dibunuh, kecuali orang cerdik pandai, seniman,
perajin, sastrawan, guru, ahli bahasa, rohaniawan, dokter, ahli
sejarah, dan pakar strategi perang. Mereka sangat penting untuk
melatih dan mendidik orang Mongol sehingga menjadi bangsa yang
beradab.

Sebagai tokoh besar lain, Jengis Khan mempunyai idola yang ikut
membentuk kepribadian dan arah cita-citanya. Idolanya ialah tokoh
utama sebuah cerita rakyat Mongol yang populer bernama Kutula
Khan. Menurut cerita tersebut Kutula Khan bertubuh besar. Suaranya
bagaikan bunyi guruh dan guntur menyambar puncak gunung.
Tangannya yang kuat bagaikan beruang dengan mudah dapat
mematahkan anak panah. Walau udara dingin pada musim gugur dia
dapat tidur dengan nyenyak dekat api pendiangan tanpa pakai baju.
Percikan api yang melukai tubuhnya tidak dia pedulikan, seolah-oleh
gigitan nyamuk saja. Dalam sehari ia makan seekor domba dan satu
guci susu. Kepada seorang jenderalnya Jengis bertanya pernah
bertanya:” Apakah kebahagiaan terbesar dalam hidup ini, menurut
pendapatmu? “Jenderalnya menjawab: “Beburu dimusim semi
mengendarai seekor kuda yang tangkas dan bagus! “Bukan!” jawab
©2003 Digitized by USU digital library 5
Jengis Khan. “Kebahagiaan terbesar ialah menaklukkan musuh,
mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta milik
mereka, memandangi kerabat dekat mereka meratap dan menjerit-
jerit, menunggangi kuda-kuda mereka, memeluk istri dan anak-anak
gadis mereka serta memperkosa mereka.”

Ogatai, salah seorang putranya, mempraktekkan betul-betul apa
yang dikatakan ayahnya. Apabila Ogatai dan tentaranya berhasil
menduduki kota, dia akan memerintahkan ratusan gadis berbaris dan
kemudian beberapa gadis paling cantik dipilihnya untuk dirinya. Yang
agak cantik untuk jenderal-jenderalnya dan selebihnya untuk prajurit-
prajurit yang lebih rendah pangkatnya. Amir Khusraw, penyair Persia
abad ke-13 yang melarikan diri dan tinggal di India, memberi
gambaran seperti berikut tentang orang-orang Mongol itu: “Mereka
mengendarai unta dan kuda dengan tangkas, tubuh mereka bagaikan
besi, wajah membara, tatapan muka garang, leher pendek, telinga
lebar berbulu dan memakai anting-anting, kulit kasar penuh kutu dan
baunya amat tidak sedap.”

Penulis lain mengatakan bahwa mereka seperti keturunan anjing
saja, wajah rajanya seperti binatang buas dan berkata bahwa tuhan
mencipta mereka dari api neraka. “Sejarawan Ibn ‘Athir melaporkan
ketika Bukhara diserbu, 30 ribu tentara kerajaan Khwarizmi tidak
berkutik mengahapi keganasan dan kebengisan mereka. Juwayni
sejarawan abad ke-13 yang lain, menulis dalam bukunya Tarikh-I-
Jehan Gusan: “Jengis Khan naik ke atas mimbar masjid dan mengaku
sebagai cemeti Tuhan yang diutus untuk menghukum orang-orang
yang penuh dosa.”

2. Perang dengan negeri Islam

Awal permusuhan dan peperangan dengan negeri Islam bermula
dari peristiwa tahun 1212 M. Pada suatu hari tiga orang saudagar
Bukhara bersama puluhan rombongannya tiba di wilayah Mongol dan
menuju ibukota Karakorum. Entah mengapa, orang-orang Mongol
menangkap mereka dan kemudian menyiksanya. Sedangkan barang
dagangannya dirampas. Tidak lama setelah peristiwa itu Jengis Khan
mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membeli barang dagangan
di Bukhara. Atas perintah amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap
dan menghukum mati. Jengis sangat marah dan merancang menyerbu
kerajaan Khwarizmi dan negeri lain di Asia tengah. Penyerbuan itu
baru terlaksana pada tahun 1219, hanya selisih tiga tahun setelah
tentara Mongol menaklukkan seluruh wilayah Cina.

Pada tahun 1227 Jengis Khan meninggal dunia, sebelum seluruh
wilayah Khwarizmi dan Asia tengah, termasuk Afghanistan dan India
utara, berhasil ditaklukkan. Dia digantikan putranya Ogatai (1229 –
1241). Dibawah pimpinannya semakin banyak wilayah taklukan Mongol.
Kekuasaan mereka mencapai Sungai Wolga dan Polandia. Sebagian
besar orang Mongol telah memeluk agama Budha, namun beberapa
bangsawan dan istri mereka ada yang memeluk agama Kristen.
Pengganti Ogotai ialah Kuyuk (1246 – 1249) dan Kuyuk digantikan oleh
Mangu (1251-1264), putra sulung Tulul dan Tulul ialah adik bungsu
©2003 Digitized by USU digital library 6
Ogotai. Pada masa kepemimpinan Mangu inilah konflik terjadi dalam
keluarga Jengis Khan.

Entah apa sebabnya pada suatu hari Mangu menuduh Ogul
Ghaimi, bekas permaisuri Ogatai yang beragama Kristen, bermaksud
menggulingkan kekuasaannya dan menghasut orang Mongol yang
beragama Budha melakukan makar. Ogul Ghaimi dihukum mati dan
hampir semua keturunan Ogotai dibunuh. Keputusan tersebut didukung
oleh Kubilai Khan, yang telah menjadi kaisar Cina, dan Hulagu. Cucu
Ogotai, Kaidu yang menjadi panglima di Subutai, tidak berhasil
melaksanakan niatnya membalas dendam. Ia malah dipaksa
menyerahkan wilayah kemaharajaan Kara Kita (Xinjiang, Cina) kepada
Mangu. Begitulah sejak itu kekuasaan Mangu menjadi bertambah luas.

Sebenarnya serangan terhadap Baghdad tidak pernah terpikirkan
oleh Mangu, sebab di samping tentara Abbasiyah masih dianggap kuat
dan berbahaya, beberapa ulama yang menjadi penasehat penguasa
Mongol dapat meyakinkan bahaya serangan tersebut. Menurut para
ulama, bagaimanapun Khalifah al-Mu’tasim ialah pemimpin kaum
muslimin dan barang siapa yang menistanya pasti akan mendapat
balasan setimpal dari Tuhan. Penyerbuan ke Baghdad terjadi setelah
Mangu memerintahkan Hulagu membasmi istana benteng Alamut dan
wilayah yang dikuasai orang-orang Assasin, yaitu cabang dari sekte
Isma’iliyah (Syi’ah Imam Tujuh). Orang-orang Hassasin sangat
berbahaya karena sering merampok dan membunuh para saudagar,
termasuk saudagar Mongol.

Ketika mendapat perintah saudaranya itu Jenderal Hulagu juga
mendapat pesan khusus dari istrinya Dokuz Khatun yang beragama
Kristen. Dokuz Khatun mempunyai hubungan dengan pemimpin
pasukan perang salib yang sedang berperang dengan tentara Islam
merebut Yerusalem pada waktu itu, dan berkonspirasi dengan
misionaris Kristen untuk menghancurkan kaum Muslim. Dia meminta
kepada suaminya agar setelah menghancurkan benteng Alamut, yang
membentang sepanjang pegunungan di timur laut Iran dan Afghanistan
segera menaklukkan Iran dan Iraq. Demikianlah, sebelum menaklukkan
dan membasmi pengikut Hassasin di Alamut, Hulaghu dan ribuan
tentaranya berangkat dari Transoxiana disebelah utara Samarkand dan
Bukhara. Mula-mula ia menyerbu Merw, Rayya dan Nisyapur, kemudian
Hamadan dan dari situ berputar menuju dataran tinggi Marenda serta
menghancurkan Istana Benteng Alamut dan membinasakan ribuan
pengikut Hassasin. Setelah itu pasukan Hulagu menyerbu Azerbaijan
dan Armenia, yang dengan mudah dapat ditaklukkannya. Gerakan
selanjutnya ialah ke Arah selatan memasuki wilayah al-Jazirah. Setelah
beristirahat agak lama dan mengatur strategi perang diantaranya
mengirim mata-mata, pada hari Minggu 4 Safar H (Februari 1258)
pasukan Hulagu bergerak mendekati Baghdad. Walaupun perlawanan
yang diberikan oleh tentara Abbasiyah cukup sengit, namun tidak
begitu sukar bagi Hulagu untuk mengalahkan dan menghancurkan
mereka.

Catatan yang cukup menarik tentang kekalahan tentara kaum
Muslimin Baghdad itu terdapat dalam buku Tarikh al-Islam (hlm. 206-
©2003 Digitized by USU digital library 7
207) karangan sejarawan terkenal abad ke-13M Muhyiddin al-Khayyat:
“Sejak bertahun-tahun lamanya telah timbul pertentangan tajam
antara pengikut Sunni dan Syi’ah, juga antara pengikut mazhab Syafi’i
dan Hanafi. Pertumpahan darah telah sering pula terjadi dalam
pertikaian yang timbul diantara golongan-golongan yang saling
bertentangan itu. Pada saat itu khalifah yang berkuasa ialah al-
Mu’tasim, sedangkan wazirnya Muayyad al-Din al-Qami, seorang tokoh
Syi’ah terkemuka.

Amir Abu Bakar, putra khalifah, dan panglima Rukhnuddin al-
Daudar sudah lama menaruh dendam kepada wazir al-Qami. Pada suatu
hari dia memerintahkan tentara mengobrak-abrik tempat tinggal orang
Syi’ah. Peristiwa ini oleh wazir dirasakan sebagai pukulan hebat
terhadap dirinya. Diam-diam dia berkorespondensi dengan Hulagu dan
mendorong panglima Mongol dari Transoxiana itu segera berangkat
merebut ibukota Baghdad.

Hulagu pun datang dengan ribuan tentaranya pada bulan Safar
656H dan mengepung Baghdad. Dengan persetujuan khalifah panglima
al-Daudar membawa pasukan tentara Baghdad untuk mengusir trntara
Mongol. Tetapi malang tidak dapat dielakkan . Pasukannya kalah telak
dan dia sendiri dengan kepala terpisah dari badan. Sisa pasukannya
menyelamatkan diri ke balik tembok ibukota yang kukuh dan sebagian
lagi melarikan diri ke Syiria.

Setelah itu wazir al-Qami menemui Hulagu, dan atas persetujuan
Khalifah al-Mu’tashim, dilakukan perundingan dengannya. Wazir dan
pengiringnya pulang ke dalam kota, dan setelah terjadi kericuhan
diapun berkata kepada khalifah: “Hulagu Khan berjanji akan tetap
menghormati dan Tuan sebagai khalifah, seperti mereka mengakui
Sultan Konya. Bahkan ia hendak mengawinkan seorang putrinya
dengan putra Tuanku, Amir Abu Bakar !”

Muhyiddin al-Khayyat selanjutnya melaporkan bahwa khalifah al-
Mu’tasim disertai seluruh pembesar kerajaan dan hakim, serta keluarga
mereka, berjumlah 3000 orang keluar dari istana menemui Hulagu.
Pada mulanya mereka disambut dengan ramah, tetapi tidak lama
kemudian dibantai habis. Wazir al-Qami dan keluarganya juga dibantai
dengan cara lebih bengis. Sebelum dibunuh wazir al-Qami dinista
Hulagu, “Kamu pantas mendapat hukuman berat karena berkhianat
kepada orang yang telah memberimu kedudukan istimewa.”

Selama 40 hari pasukan Hulagu membunuh, menjarah,
memperkosa wanita dan membakar. Rumah-rumah ibadah dihancurkan.
Bayi dalam gendongan dibantai bersama ibu mereka. Wanita hamil
ditusuk perutnya. Sejak saat itu pula kedaulatan dan kekuasaan
Mongol dinobatkan atau Bani Ilkhan berdiri kukuh di Persia (iran dan
Iraq). Hulagu Khan dinobatkan sebagai khan dan memilih Tabriz
sebagai ibukota kemaharajaannya. Hanya Mesir dan Syiria yang tidak
dapat ditaklukkan karena kuatnya pasukan kaum muslimin di situ.



©2003 Digitized by USU digital library 8
3. Orang Mongol Memeluk Islam

Dalam perjalanan sejarah suatu bangsa sering terjadi sesuatu
yang musykil dan tidak pernah terbayangkan. Orang Mongol yang
dahulunya merupakan musuh dan seteru sengit orang Islam, pada
akhirnya tunduk kepada kepercayaan penduduk negeri-negeri yang
mereka taklukkan. Tidak lama setelah jatuhnya kota Baghdad itu telah
banyak bangsawan dan pemimpin Mongol secara diam-diam memeluk
Islam. Pada awal abad ke-14 , belum seratus tahun maklumat
permusuhan terhadap umat Islam diumumkan oleh founding father
mereka Jengis Khan, sebagian besar orang Mongol dinegeri kaum
muslimin telah dirasuki agama Islam dan kebudayaan masyarakatnya.

Namun demikian, semua itu berjalan dalam proses yang berliku-
liku. Sebelum berbondong-bondong memeluk Islam mereka telah
menjadi penganut Syamanisme dan Budhisme yang fanatik. Usaha
misionaris Kristen untuk mengkristenkan mereka bahkan hampir
berhasil lebih dari dua tiga kali. Beberapa pemimpin Mongol bahkan
telah menjalin kerja sama dan konspirasi dengan saja-raja Eropa dan
pemimpin perang pasukan Salib merekla di tanah suci Yerusalem. Di
antara bentuk bentuk konspirasi itu ialah bersama-sama menghajar
dan menghancurkan negeri Islam.

Di antara pemimpin Mongol pertama yang memeluk Islam ialah
Barkha Khan (1256-1266 ), cucu Jengis Khan dari putranya Juchi Khan,
yang menguasai Eropa timur dan tengah dan berkedudukan di Sarai,
lembah Wolga. Dia dan para pengikutnya memeluk Islam pada tahun
1260 berkat dakwah para ulama sufi yang berada di daerah tersebut.
Pada tahun itu juga Barkha mengirim ribuan tentaranya untuk
membantu sultan Baybars di Mesir yang sedang menghadapi serangan
Hulagu Khan dan tentara Salib. Dalam pertempuran di Ain Jalut
pasukan Hulagu dapat dihancurkan. Sejak itu agama Islam berkembang
pesat do lembah Wolga dan orang-orang Mongol yang bermukim di
wilayah itu menyebut diri sebagai orang Kozak (Kystchak).

Adapun keturunan Hulagu Khan sendiri menempuh jalan berliku
sebelum memeluk Islam. Ulama-ulama Islam juga tidak hanya bersaing
dengan misionaris Kristen, tetapi bersaing pula dengan sesama
mereka, yaitu ulama mazhab Syafi’I dengan Hanafi dan ulama Syi’ah.
Pada mulanya usaha misionaris Kristen hampir berhasil. Pengganti
Hulagu Khan , yaitu Abagha (1265-1282) memeluk Kristen berkat
bujukan ibunya Dokuz Khatun. Dalam istanya banyak pendeta Kristen
tinggal, diantaranya sebagai penasehat politik. Pada tahun 1274,
Abagha mengirim utusan khusus menghadiri Konsili Lyon. Dia sering
berkirim-kiriman surat dengan Raja Louis (1266-1270) dari Prancis dan
raja Charles I (1268-1285 ) dari Sicilia. Tetapi malan, putra Abagha,
yang menggantikan ayahnya dan sejak kecil telah memeluk agama
Kristen, yaitu Tagudar (1281-1284) menjelang dewasa memeluk Islam.
Dia menyebut dirinya sebagai Sultan Muhammad Tagudar Khan. Namun
karena tindakannya memberi peluang terlalu besar bagi perkembangan
Islam, dia diadukan oleh-tokoh masyarakat Mongol kepada Kubilai
Khan di Khanbalik, Cina. Perebutan kekuasaan segera terjadi di bawah
©2003 Digitized by USU digital library 9
pimpinan Arghun, saudara kandung Tagudar. Dalam peristiwa itu
Tagudar mati terbunuh.

Setelah naik tahta, Arghun (1284-1290 ) segera menyingkirkan
pembesar-pembesar Islam dari kedudukan penting mereka. Mereka
digantikan oleh pembesar beragama Budha dan Kristen. Pengganti
Arghun, yaitu Baidu Khan (1293-1295) berbuat serupa. Namun justru
pada masa pemerintahan Baidu inilah terjadi peristiwa paling
bersejarah. Putranya yang menggantikan dia, Ghazan Khan (1295-
1302), walaupun sejak kecil dididik sebagai penganut Budhis yang
fanatik, ketika naik tahta menyatakan memeluk Islam.

Peristiwa tersebut merupakan kemenangan besar Islam. Ghazan
lahir pada tanggal 4 Desember 1271 M. Usianya ketika naik tahta
belum genap berusia 24 tahun. Pada umur 10 tahun dia diangkat
menjadi gubernur Khurasan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir
Nawruz, putra Arghhun Agha yang telah memerintah selama 39 tahundi
bebertapa provinsi Persia di bawah pengawasan langsung Jengis Khan
dan penggantinya. Amir Nawruz merupakan pembesar Mongol awal
yang memeluk agama Islam secara diam-diam. Atas usaha dialah
Ghazan Khan memeluk agama Islam.

Ajakan memeluk Islam itu berawal ketika Ghazan sedang
berjuang merebut tahta kerajaan dari saingan utamanya, Baidu. Amir
Nawruz berkata, “Tuanku ! Berjanjilah, apabila kelak Allah
menganugerahkan kemenangan kepada Tuan, sebagai ucapan syukur
Anda mesti memeluk agama Islam !” Atas petunjuk dan nasihat Amir
Nawruz itulah Ghazan Khan berhasil mengalahkan Baidu dan naik tahta
pada tanggal 19 Juni 1295 (4 Sya’ban 644 H). Janjinya untuk memeluk
Islam dipenuhi hari itu juga. Bersama 10.000 orang Mongol lain,
termasuk sejumlah pembesar dan jenderal dia mengucapkan dua
kalimah syahadat di hadapan Syekh Sadruddin Ibrahim, putra tabib
terkemuka al-Hamawi.

Setelah empat bulan memerintah, Sultan Ghazan memerintahkan
tentaranya menghancurkan kuil Budha, gereja dan sinagor di seluruh
kota Tabriz. D atasnya kemudian dibangun kembali masjid dan
madrasah, sebab di tempat yang sama itulah dahulu Hulagu
menghancurkan puluhan masdrasah dan masjid yang megah. Denman
berbuat demikian dia telah menebus dosa leluhurnya kepada kaum
muslimin.

Menurut Edward G. Browne (Literary History of Persia), Vol. II,
1956), dalam sejarah Persia Sultan Ghazan merupakan raja Mongol
pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Syariat
Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan
diganti dengan undang-undang baru yang bernafas Islam. Pada bulan
November 1297 amir-amir Mongol mulai memakai jubahdan surban ala
Persia, dan membuang pakaian adat nenek moyangnya. Walaupun
perubahan itu menyebabkan banyak orang Mongol yang masih
beragama Budha tidak puas, dan terus menerus menyebarkan intrik-
intrik dan meletuskan sejumlah pemberontakan, namun pemerintahan
Ghazan relatif aman dan mantap. Reformasi lain yang dia lakukan ialah
©2003 Digitized by USU digital library 10
pengurangan pajak dan penyusutan jumlah pelacuran dan lokasinya
diseluruh negeri.

Sultan Ghazan wafat pada tanggal 17 Mei 1304 dalam usia 32
tahun disebabkan konspirasi politik yang bertujuan mengangkat
Alafrank, putra saudara sepupunya Gaykhatu, sebagai raja Mongol
beragama Budha. Kematiannya ditangisi diseluruh Persia. Dia bukan
hanya seorang negarawan muda yang bijak dan taat beribadah, tetapi
juga pelindung ilmu dan sastra. Dia menyukai seni, khususnya
arsitektur, karejinan dan ilmu alam. Dia mempelajari astronomi, kimia,
mineralogy, metalurgi, dan botani. Dia menguasai bahasa Persia, Arab,
Cina Mandarin, Tibet, Hindi dan Latin. Penggantinya, Uljaytu
Khudabanda (1304-1316), meneruskan kebijakannya. Tetapi raja
Mongol yang paling saleh ialah Abu Sa’id (1317-1334 M), pengganti
Uljaytu. Di bawah pemerintahan Abu Sa’id inilah orang Mongol Persia
menjadi pembela gigih Islam serta pelindung utama kebudayaan Islam.


BAB IV
PENUTUP

Demikianlah analisis ringkas tentang perjalan sejarah jenghis
Khan yang telah memberikan sebuah catatan hitam dalam lembaran
sejarah peradaban. Dahulunya bangsa Mongol memang sangat dikenal
sebuah bangsa yang memiliki keberanian maupun kenekatan yang
puncak kejayaan berada di tangan Jengis Khan sampai beberapa
generasi dibawahnya. Keberadaan, kekejaman maupun kebengisan
Jenghis Khan takkan pernah terlupakan dalam sejarah peradaban,
walaupun cucunya belakangan dianggap dapat menebus kesalahan-
kesalahan kakeknya namun hancurnya peninggalan-peninggalan
sejarah dalam sebuah peradaban mungkin tak akan dapat dilupakan.


DAFTAR PUSTAKA

Sidi Gazalba, 1987, Asas Kebudayaan Islam Pembaharuan Ilmu dan
Filsafat, Jakarta Bulan Bintang.
Omar Amin Husein, 1975, Kultur Islam, Sejarah Perkembangan
Kebudayaan Islam dan Pengaruhnya dalam Dunia Internasional,
Jakarta, Bulan Bintang.
Dewan Redaksi, 1994, Ensiklopedi Islam I, Jakarta, PT. Ichtiar Baru
Van Hoeve.
Gibb, H.A.R., Modern Trend in Islam, Chicago, 1945
Rom Landaou, 1962, The Arab Heritage Of Western Civilization, New
York Arab Information Centre.
Titus Burchardt, 1976, Art Of Islam, Language and Meaning, London:
World of Islam Festival Trust
Nurcholish Majid, 1997, Kaki Langit Peradapan, Jakarta, Paramadina.
Browne, Edward G., 1956, A Literary History of Persia, London: T.Fisher
Unwin, dan Cambridge, The University Press.
Hossen Nasr, Sayyed, 1986, Sains Dan Peradaban di Dalam Islam
(terjemahan), Pustaka, Bandung
Seteruse......

6 Apr 2010

Bicara soal mendidik anak..

Bicara anak, adalah amanat dari Allah SWT sebagai titipan yang harus dijaga, dididik, dibimbing agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan sholeh/sholehah. Mendidik anak yang penurut, tidak banyak tingkah dan selalu dapat dibanggakan adalah harapan setiap orangtua. Tapi bagaimana bila anak tersebut menderita satu kelainan seperti hyperaktiv, autis ADHD dsb. Apakah diperlukan seorang Psikolog untuk anak????
Tulisan ini saya ambil dari sebuah buku yang berjudul "ALHAMDULILLAH ANAKKU NAKAL" tulisan Mftahul Jinan..

KENAKALAN ANAK SEBUAH PARADIGMA YANG SALAH DARI ORANG TUA
Kalo kita menemui atau melihat seorang anak yang dikategorikan nakal, apakah anak tersebut memang anak-anak nakal? Apakah dengan perilaku tersebut, mereka sudah dapat dilabeli dengan anak nakal? Apakah tidak ada peran bagi orang tua terhadap munculnya perilaku-perilaku tersebut?
Bagi anaknya yang bermain terus dan sulit disuruh belajar.
bermain adalah hadiah alam yang berharga untuk putra-putri kita. Ia merupakan 'alat canggih' yang memungkinkan seorang anak untuk masuk dalam sebuah kegiatan yang paling serius, penting dan paling mengundang minat.
mari kita mencoba untuk mengingat kembali saat-saat kita bermain bersama teman2 di sekolah dasar. apakah kita kita merindukan masa-masa itu? mengapa? jenis permainan yang kita mainkan? apakah yang kita pelajari dari permainan itu? apakah saat itu kita menunggu datangya waktu bermain? apakah saat ini kita masih mendambakan untuk bermain kembali?
kegiatan bermain dapat meningkatkan keterampilan motorik kasar dan halus, koordinasi serta meningkatkan perkembangan semua indera, dengan bermain anak dapat melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, seperti warna, bentuk, ukuran, tekstur dan jenis obyek. saat bermain anak melatih dirinya untuk memcahkan masalah karena ia menggunakan seluruh daya pikir dan imajinasina.
sekarang, masihkah kita menganggap anak kita yang bermain terus dan sulit disuruh belajar sebagai anak nakal?

Bagi anak yang suka menggoda dan berbuat usil terhadap kakak dan adiknya.
tidak ada anak yang mampu menangkap situasi dan kondisi untuk membuat oarang lainmerasa terganggu dan tersulut emosinya kecuali anak tersebut adalah cerdas dan penuh kreatifitas. ia cermat menangkap moment untuk kemudian ia melakukan reaksi terhadap meomint yang ia dapatkan. ia cerdik meilih reaksi yang tepat dari moment yang ia tangkap sehingga orang lain tersulut emosinya.
bagi orang tua, yang perlu dilakukan hanyalah mengarahkan energi kecerdasan dan kreatifitas mereka kepada aktifitas-aktifitas yang lebih bermanfaat dan berdaya guna, tanpa menggunakan kekerasan dan paksaan.
berbahagialah mempunyai anak yang suka menggoda dan berbuat usil terhadap saudaranya, karena ini adalah energi positif yang tidak dimiliki setiap anak. yang terpenting adalah bersiaplah untuk mengarahkan segala godaan dan keusilan mereka pada kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.
Seteruse......

UMAR BIN KHATTAB,RA

Seorang pemuda yang gagah perkasa berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan perjalanannya tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek, Naim mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya sendiri terlebih dahulu. Seketika itu juga pemuda itu kembali ke rumah dan mendapatkan ipar lelakinya sedang asyik membaca kitab suci Al-Qur’an. Langsung sang ipar dipukul dengan ganas, pukulan yang tidak membuat ipar maupun adiknya meninggalkan agama Islam. Pendirian adik perempuannya yang teguh itu akhirnya justru menentramkan hatinya dan malahan ia memintanya membaca kembali baris-baris Al-Qur’an. Permintaan tersebut dipenuhi dengan senang hati. Kandungan arti dan alunan ayat-ayat Kitabullah ternyata membuat si pemuda itu begitu terpesonanya, sehingga ia bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Begitulah pemuda yang bernama Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam dikenal sebagai musuh Islam yang berbahaya. Dengan rahmat dan hidayah Allah, Islam telah bertambah kekuatannya dengan masuknya seorang pemuda yang gagah perkasa. Ketiga bersaudara itu begitu gembiranya, sehingga mereka secara spontan mengumandangkan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Gaungnya bergema di pegunungan di sekitarnya.


Umar masuk agama Islam pada usia 27 tahun. Beliau dilahirkan di Makkah, 40 tahun sebelum hijrah. Silsilahnya berkaitan dengan garis keturunan Nabi pada generasi ke delapan. Moyangnya memegang jabatan duta besar dan leluhurnya adalah pedagang. Ia salah satu dari 17 orang Makkah yang terpelajar ketika kenabian dianugerahkan kepada Muhammad SAW.

Dengan masuknya Umar ke dalam agama Islam, kekuatan kaum Muslimin makin bertambah tangguh. Ia kemudian menjadi penasehat utama Abu Bakar selama masa pemerintahan dua setengah tahun. Ketika Abu Bakar mangkat, ia dipilih menjadi khalifah Islam yang kedua, jabatan yang diembannya dengan sangat hebat selama sepuluh setengah tahun. Ia meninggal pada tahun 644 M, dibunuh selagi menjadi imam sembahyang di masjid Nabi. Pembunuhnya bernama Feroz alias Abu Lu’lu, seorang Majusi yang tidak puas.

Ajaran-ajaran Nabi telah mengubah suku-suku bangsa Arab yang suka berperang menjadi bangsa yang bersatu, dan merupakan suatu revolusi terbesar dalam sejarah manusia. Dalam masa tidak sampai 30 tahun, orang-orang Arab yang suka berkelana telah menjadi tuan sebuah kerajaan terbesar di waktu itu. Prajurit-prajuritnya melanda tiga benua terkenal di dunia, dan dua kerajaan besar Caesar (Romawi) dan Chesroes (Parsi) bertekuk lutut di hadapan pasukan Islam yang perkasa. Nabi telah meninggalkan sekelompok orang yang tidak mementingkan diri, yang telah mengabdikan dirinya kepada satu tujuan, yakni berbakti kepada agama yang baru itu. Salah seorang di antaranya adalah Umar al-Faruq, seorang tokoh besar, di masa perang maupun di waktu damai. Tidak banyak tokoh dalam sejarah manusia yang telah menunjukkan kepintaran dan kebaikan hati yang melebihi Umar, baik sebagai pemimpin tentara di medan perang, maupun dalam mengemban tugas-tugas terhadap rakyat serta dalam hak ketaatan kepada keadilan. Kehebatannya terlihat juga dalam mengkonsolidasikan negeri-negeri yang telah di taklukkan.

Islam sempat dituduh menyebarluaskan dirinya melalui ujung pedang. Tapi riset sejarah modern yang dilakukan kemudian membuktikan bahwa perang yang dilakukan orang Muslim selama kekhalifahan Khulafaurrosyidin adalah untuk mempertahankan diri.

Sejarawan Inggris, Sir William Muir, melalui bukunya yang termasyur, Rise, Decline and Fall of the Caliphate, mencatat bahwa setelah penaklukan Mesopotamia, seorang jenderal Arab bernama Zaid memohon izin Khalifah Umar untuk mengejar tentara Parsi yang melarikan diri ke Khurasan. Keinginan jenderalnya itu ditolak Umar dengan berkata, “Saya ingin agar antara Mesopotamia dan negara-negara di sekitar pegunungan-pegunungan menjadi semacam batas penyekat, sehingga orang-orang Parsi tidak akan mungkin menyerang kita. Demikian pula kita, kita tidak bisa menyerang mereka. Dataran Irak sudah memenuhi keinginan kita. Saya lebih menyukai keselamatan bangsaku dari pada ribuan barang rampasan dan melebarkan wilayah penaklukkan. Muir mengomentarinya demikian: “Pemikiran melakukan misi yang meliputi seluruh dunia masih merupakan suatu embrio, kewajiban untuk memaksakan agama Islam melalui peperangan belum lagi timbul dalam pikiran orang Muslimin.”

Umar adalah ahli strategi militer yang besar. Ia mengeluarkan perintah operasi militer secara mendetail. Pernah ketika mengadakan operasi militer untuk menghadapi kejahatan orang-orang Parsi, beliau yang merancang kopmposisi pasukan Muslim, dan mengeluarkan perintah dengan detailnya. Saat beliau menerima khabar hasil pertempurannya beliau ingin segera menyampaikan berita gembira atas kemenangan tentara kaum Muslimin kepada penduduk, lalu Khalifah Umar berpidato di hadapan penduduk Madinah: “Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda budak. Aku adalah hamba Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah dipercayakan tanggung jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan khilafah. Adalah tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan menjadi hari nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan.”

Pada tahun 634 M, pernah terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk. Pihak Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan buruk, pasukan Muslimin yang bertempur dengan gagah berani akhirnya berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000 orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari 3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: “Selamat tinggal Syria,” dan dia mundur ke Konstantinopel.

Beberapa prajurit yang melarikan diri dari medan pertempuran Yarmuk, mencari perlindungan di antara dinding-dinding benteng kota Yerusalem. Kota dijaga oleh garnisun tentara yang kuat dan mereka mampu bertahan cukup lama. Akhirnya uskup agung Yerusalem mengajak berdamai, tapi menolak menyerah kecuali langsung kepada Khalifah sendiri. Umar mengabulkan permohonan itu, menempuh perjalanan di Jabia tanpa pengawalan dan arak-arakan kebesaran, kecuali ditemani seorang pembantunya. Ketika Umar tiba di hadapan uskup agung dan para pembantunya, Khalifah menuntun untanya yang ditunggangi pembantunya. Para pendeta Kristen lalu sangat kagum dengan sikap rendah hati Khalifah Islam dan penghargaannya pada persamaan martabat antara sesama manusia. Uskup agung dalam kesempatan itu menyerahkan kunci kota suci kepada Khalifah dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kota. Ketika ditawari bersembahyang di gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan: “Kalau saya berbuat demikian, kaum Muslimin di masa depan akan melanggar perjanjian ini dengan alasan mengikuti contoh saya.” Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen. Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun.

Penaklukan Syria sudah selesai. Seorang sejarawan terkenal mengatakan: “Syria telah tunduk pada tongkat kekuasaan Khalifah, 700 tahun setelah Pompey menurunkan tahta raja terakhir Macedonia. Setelah kekalahannya yang terakhir, orang Romawi mengaku takluk, walaupun mereka masih terus menyerang daerah-daerah Muslimin. Orang Romawi membangun sebuah rintangan yang tidak bisa dilalui, antara daerahnya dan daerah orang Muslim. Mereka juga mengubah sisa tanah luas miliknya di perbatasan Asia menjadi sebuah padang pasir. Semua kota di jalur itu dihancurkan, benteng-benteng dibongkar, dan penduduk dipaksa pindah ke wilayah yang lebih utara. Demikianlah keadaannya apa yang dianggap sebagai perbuatan orang Arab Muslim yang biadab sesungguhnya hasil kebiadaban Byzantium.” Namun kebijaksanaan bumi hangus yang sembrono itu ternyata tidak dapat menghalangi gelombang maju pasukan Muslimin. Dipimpin Ayaz yang menjadi panglima, tentara Muslim melewati Tarsus, dan maju sampai ke pantai Laut Hitam.

Menurut sejarawan terkenal, Baladhuri, tentara Islam seharusnya telah mencapai Dataran Debal di Sind. Tapi, kata Thabari, Khalifah menghalangi tentaranya maju lebih ke timur dari Mekran.

Suatu penelitian pernah dilakukan untuk menunjukkan faktor-faktor yang menentukan kemenangan besar operasai militer Muslimin yang diraih dalam waktu yang begitu singkat. Kita ketahui, selama pemerintahan khalifah yang kedua, orang Islam memerintah daerah yang sangat luas. Termasuk di dalamnya Syria, Mesir, Irak, Parsi, Khuzistan, Armenia, Azerbaijan, Kirman, Khurasan, Mekran, dan sebagian Baluchistan. Pernah sekelompok orang Arab yang bersenjata tidak lengkap dan tidak terlatih berhasil menggulingkan dua kerajaan yang paling kuat di dunia. Apa yang memotivasikan mereka? Ternyata, ajaran Nabi SAW. telah menanamkan semangat baru kepada pengikut agama baru itu. Mereka merasa berjuang hanya demi Allah semata. Kebijaksanaan khalifah Islam kedua dalam memilih para jenderalnya dan syarat-syarat yang lunak yang ditawarkan kepada bangsa-bangsa yang ditaklukan telah membantu terciptanya serangkaian kemenangan bagi

kaum Muslimin yang dicapai dalam waktu sangat singkat.

Bila diteliti kitab sejarah Thabari, dapat diketahui bahwa Umar al-Faruq, kendati berada ribuan mil dari medan perang, berhasil menuntun pasukannya dan mengawasi gerakan pasukan musuh. Suatu kelebihan anugerah Allah yang luar biasa. Dalam menaklukan musuhnya, khalifah banyak menekankan pada segi moral, dengan menawarkan syarat-syarat yang lunak, dan memberikan mereka segala macam hak yang bahkan dalam abad modern ini tidak pernah ditawarkan kepada suatu bangsa yang kalah perang. Hal ini sangat membantu memenangkan simpati rakyat, dan itu pada akhirnya membuka jalan bagi konsolidasi administrasi secara efisien. Ia melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan menodai kuil serta tempat ibadah lainnya. Sekali suatu perjanjian ditandatangani, ia harus ditaati, yang tersurat maupun yang tersirat.

Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar, Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu. Penaklukan model Umar bersifat badani dan rohani.

Ketika Alexander menaklukan Sur, sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada dinding kota. Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi. Tetapi imperium mereka yang luas itu hancur berkeping-keping begitu sang raja meninggal. Sedangkan penaklukan oleh khalifah Islam kedua berbeda sifatnya. Kebijaksanaannya yang arif, dan administrasi yang efisien, membantu mengonsolidasikan kerajaannya sedemikian rupa. Sehingga sampai masa kini pun, setelah melewati lebih dari 1.400 tahun, negara-negara yang ditaklukannya masih berada di tangan orang Muslim. Umar al-Faruk sesungguhnya penakluk terbesar yang pernah dihasilkan sejarah.

Sifat mulia kaum Muslimin umumnya dan Khalifah khususnya, telah memperkuat kepercayaan kaum non Muslim pada janji-janji yang diberikan oleh pihak Muslimin. Suatu ketika, Hurmuz, pemimpin Parsi yang menjadi musuh bebuyutan kaum Muslimin, tertawan di medan perang dan di bawa menghadap Khalifah di Madinah. Ia sadar kepalanya pasti akan dipenggal karena dosanya sebagai pembunuh sekian banyak orang kaum Muslimin. Dia tampaknya merencanakan sesuatu, dan meminta segelas air. Permohonannya dipenuhi, tapi anehnya ia tidak mau minum air yang dihidangkan. Dia rupanya merasa akan dibunuh selagi mereguk minuman, Khalifah meyakinkannya, dia tidak akan dibunuh kecuali jika Hurmuz meminum air tadi. Hurmuz yang cerdik seketika itu juga membuang air itu. Ia lalu berkata, karena dia mendapatkan jaminan dari Khalifah, dia tidak akan minum air itu lagi. Khalifah memegang janjinya. Hurmuz yang terkesan dengan kejujuran Khalifah, akhirnya masuk Islam.

Khalifah Umar pernah berkata, “Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya dengan ucapan komandannya atau khalifahnya.” Demokrasi sejati seperti ini diajarkan dan dilaksanakan selama kekhalifahan ar-rosyidin hampir tidak ada persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang demokratis, seperti digariskan Al-Qur’an, dengan tegas meletakkan dasar kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan. Nabi SAW. sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa melakukan konsultasi. Pohon demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan dipelihara oleh Abu Bakar mencapai puncaknya pada jaman Khalifah Umar. Semasa pemerintahan Umar telah dibentuk dua badan penasehat. Badan penasehat yang satu merupakan sidang umum yang diundang bersidang bila negara menghadapi bahaya. Sedang yang satu lagi adalah badan khusus yang terdiri dari orang-orang yang integritasnya tidak diragukan untuk diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah pengangkatan dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan khusus ini, dan keputusannya dipatuhi.

Umar hidup seperti orang biasa dan setiap orang bebas menanyakan tindakan-tindakannya. Suatu ketika ia berkata: “Aku tidak berkuasa apa pun terhadap Baitul Mal (harta umum) selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.”

Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka.” Suatu kebebasan menyampaikan pendapat telah dipraktekan dengan baik.

Ketika berpidato suatu kali di hadapan para gubernur, Khalifah berkata: “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.”

Pada saat pengangkatannya, seorang gubernur harus menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa “Dia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.” Menurut pengarang buku Futuhul-Buldan, di masa itu dibuat sebuah daftar barang bergerak dan tidak bergerak begitu pegawai tinggi yang terpilih diangkat. Daftar itu akan diteliti pada setiap waktu tertentu, dan penguasa tersebut harus mempertanggung-jawabkan terhadap setiap hartanya yang bertambah dengan sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat tersebut mendapat ganjaran hukuman.

Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi, diangkat sebagai penyelidik keliling. Dia mengunjungi berbagai negara dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu, Khalifah menerima pengaduan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah, telah membangun sebuah istana. Seketika itu juga Umar memutus Muhammad Ansari untuk menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan masuk kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan kepentingan umum itu kemudian dibongkar. Kasus pengaduan lainnya menyebabkan Sa’ad dipecat dari jabatannya.

Seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam: “Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim, pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang mendapat hak untuk pensiun tentara (divan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi (qazi), semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat peraturan, seperti sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik haji, hukuman bagi pemabuk, dan hukuman pelemparan dengan batu bagi orang yang berzina.”

Khalifah menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang sehat. Ia membentuk “Diwan” (departemen keuangan) yang dipercayakan menjalankan administrasi pendapatan negara.

Pendapatan persemakmuran berasal dari sumber :

Zakat atau pajak yang dikenakan secara bertahap terhadap Muslim yang berharta. Kharaj atau pajak bumi Jizyah atau pajak perseorangan. Dua pajak yang disebut terakhir, yang membuat Islam banyak dicerca oleh sejarawan Barat, sebenarnya pernah berlaku di kerajaan Romawi dan Sasanid (Parsi). Pajak yang dikenakan pada orang non Muslim jauh lebih kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum Muslimin. Khalifah menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan tanah yang terkena. Ia menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah 2 dirham dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak dipungut pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya, pendapatan pajak tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu tak pernah terlampaui pada masa setelah wafatnya Umar.

Ia memperkenalkan reform (penataan) yang luas di lapangan pertanian, hal yang bahkan tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di zaman modern ini. Salah satu dari reform itu ialah penghapusan zamindari (tuan tanah), sehingga pada gilirannya terhapus pula beban buruk yang mencekik petani penggarap. Ketika orang Romawi menaklukkan Syria dan Mesir, mereka menyita tanah petani dan membagi-bagikannya kepada anggota tentara, kaum ningrat, gereja, dan anggota keluarga kerajaan.

Sejarawan Perancis mencatat: “Kebijaksanaan liberal orang Arab dalam menentukan pajak dan mengadakan land reform sangat banyak pengaruhnya terhadap berbagai kemenangan mereka di bidang kemiliteran.”

Ia membentuk departemen kesejahteraan rakyat, yang mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Sejarawan terkenal Allamah Maqrizi mengatakan, di Mesir saja lebih dari 20.000 pekerja terus-menerus dipekerjakan sepanjang tahun. Sejumlah kanal di bangun di Khuzistan dan Ahwaz selama masa itu. Sebuah kanal bernama “Nahr Amiril Mukminin,” yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah, dibangun untuk menjamin pengangkutan padi secara cepat dari Mesir ke Tanah Suci.

Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif. Von Hamer mengatakan, “Dahulu hakim diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang ditetapkan berdasarkan undang-undang, karena undang-undang menguasai seluruh keputusan pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan keputusan itu. Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam telah mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif.” Pemisahan seperti itu belum lagi dicapai oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini.

Umar sangat tegas dalam penegakan hukum yang tidak memihak dan tidak pandang bulu. Suatu ketika anaknya sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Khalifah memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas kuburan anak itu.

Kebesaran Khalifah Umar juga terlihat dalam perlakuannya yang simpatik terhadap warganya yang non Muslim. Ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh pemerintahan jahiliyah kepada yang berhak yang sebagian besar non Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah. Syarat-syarat perdamaiannya ialah: “Inilah perdamaian yang ditawarkan Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang-orang non Muslim diizinkan tinggal di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah tidak boleh dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak dianiaya dengan cara apa pun.” Menurut Imam Syafi’i ketika Khalifah mengetahui seorang Muslim membunuh seorang Kristen, ia mengijinkan ahli waris almarhum menuntut balas. Akibatnya, si pembunuh dihukum penggal kepala.

Khalifah Umar juga mengajak orang non Muslim berkonsultasi tentang sejumlah masalah kenegaraan. Menurut pengarang Kitab al-Kharaj, dalam wasiatnya yang terakhir Umar memerintahkan kaum Muslimin menepati sejumlah jaminan yang pernah diberikan kepada non Muslim, melindungi harta dan jiwanya, dengan taruhan jiwa sekalipun. Umar bahkan memaafkan penghianatan mereka, yang dalam sebuah pemerintahan beradab di zaman sekarang pun tidak akan mentolerirnya. Orang Kristen dan Yahudi di Hems bahkan sampai berdoa agar orang Muslimin kembali ke negeri mereka. Khalifah memang membebankan jizyah, yaitu pajak perlindungan bagi kaum non Muslim, tapi pajak itu tidak dikenakan bagi orang non Muslim, yang bergabung dengan tentara Muslimin.

Khalifah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya.

Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa. Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjunginya sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun, dan berkata, “Amirul mukminin, terdapat cukup di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?” Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?” “Tidak,” Jawab gubernur. “Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku.” Tambah Umar.

Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, “Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?” Seorang laki-laki bangkit dan berkata, “Anda akan kami pancung.” Umar berkata lagi untuk mengujinya, “Beranikah anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?” “Ya, berani!” jawab laki-laki tadi. Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, “Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku.”

Seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India menulis nukilan seperti berikut untuk dia:Jis se jigar-i-lala me thandak ho who shabnam Daryaan ke dil jis se dabel jaen who toofan

Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily, dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai.

Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan terhadap prestasi Umar berkomentar: “Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh.”

Kisah Indah Sang Khalifah

Siang di bumi Madinah, suatu hari. Matahari tengah benderang.

Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan pepasir lembah. Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah daripada bepergian dan melakukan perniagaan. Namun tidak baginya, lelaki tegap, berwajah teduh dan mengenakan jubah yang sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian. Ia tidak peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor matanya berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, ketika daerah yang dilewatinya sentosa seperti kemarin.

Hingga ketika ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana. Ditajamkan pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan ia mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik bermain.

"Nak, apa yang berada di tanganmu itu?" Wajah si kecil mendongak, hanya
sekilas dan menjawab.

"Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung," polosnya ringan.
Pandangan lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat burung itu mencericit parau.
Di dalam hatinya mengalun sebuah kesedihan, "Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya."

"Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya," suaranya penuh harap. Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada gurat kesungguhan dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya lekat. Akhirnya dengan agak ragu ia berkata, "Baiklah paman," maka anak kecil pun segera bangkit menyerahkan burung kepada lelaki yang baru pertama kali dijumpainya.

Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping uang itu kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dengan hati-hati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam senang, "Dengan menyebut asma Allah yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah...terbanglah..."

Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi, ketika senyuman senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih. Sayup-sayup didengarnya sebuah suara lelaki dewasa yang membuatnya pergi dengan langkah tergesa. "Nak, tahukah engkau siapa yang membeli burung mu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak..."

***
Malam-malam di kota Madinah, suatu hari.

Masih seperti malam-malam sebelumnya, ia mengendap berjalan keluar dari rumah petak sederhana. Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang sudah seperti nafasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia menyulam langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap. Tak ingin malam ini terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh tak akan pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala. Maka ia bertekad malam ini untuk berpatroli lagi.

Madinah sudah tersusuri, malam sudah hampir di puncak. Angkasa bertabur
kejora. Ia masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak
melabuhkan pandangan ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun
tersenyum seperti terhibur dan memuja pencipta. Tak terasa Madinah sudah
ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di luar kota. Dan langkahnya terhenti
ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk sendirian menghadap sebuah
pelita.

"Assalamu'alaikum wahai fulan," ia menegur lelaki ini dengan santun.

"Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian," tambahnya. Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat lelaki itu memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan. Lelaki itu bingung karena di sana tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.

Setengah berlari maka ia pun pergi, menuju rumah sederhananya yang masih
sangat jauh. Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus saja berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu
yang dipijaknya sepanjang jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan
agar ia membeli sandal yang baru.

"Ummu Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malam ini," Ia membangunkan istrinya dengan nafas tersengal. Sosok perempuan itu menurut tanpa sepatah kata. Dan kini ia tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah
malam. Allah menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmah hingga dengan selamat mereka sampai di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan.

Ummu Kultsum segera masuk dan membantu persalinan. Allah Maha Besar, suara tangis bayi singgah di telinga. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium
tanah dan kemudian menghampirinya sambil berkata, "Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?"

Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena suara Ummi Kultsum saat itu
memenuhi lengang udara, "Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah."

***
Sahabat, betapa terpesona, mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Ia adalah seorang pemimpin negara, tapi sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai orang sederhana tanpa berlimpah harta. Ia adalah orang yang paling berkuasa, tapi lembaran kisah hidupnya begitu penuh kerja keras dalam mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Ia seorang penyayang meski kepada seekor burung. Ia sanggup berlari tanpa henti demi menolong seorang perempuan tak dikenal yang akan melahirkan. Dan ia melakukannya sendiri. Ia melakukannya sendiri.
Seteruse......

5 Apr 2010

HELM SNI

Jakarta - Standar Nasional Indonesia (SNI) soal helm sudah diteken sejak 2007. SNI soal helm motor ini nomornya SNI 1811-2007/

Pemerintah berharap dengan adanya SNI para pengguna helm dapat terjamin keselamatannya karena terjaminnya mutu helm.

Selain itu juga dengan adanya SNI ini mendorong para produsen helm dalam negeri untuk memproduksi helm dengan mutu yang bagus dan dapat bersaing dengan mutu helm yang diproduksi negara lain.

Alasan lain adanya SNI agar helm yang ada di Indonesia mampu memenuhi persyaratan unjuk kerja yang dipersyaratkan secara internasional.


SNI ini merupakan revisi SNI No. 09-1811-1990, dengan mengadopsi dari standar internasional Rev. 1/add. 21/Rev.4 dari E/ECE/324 dan E/ECE/TRANS/505 Regulation No.22, uniform provision concerning the approval of protective helmets and visors for drivers and passangers of motor cycles and mopeds, BS 6658:1985, Protective Helmet for Motorcyclists, dan JIS T 8133:2000, Protective Helmet for Drivers and Passangers of Motor Cycle and Mopeds.

SNI ini dirumuskan oleh Panitia Teknis Kimia Hilir melalui proses/prosedur perumusan standar dan terakhir dibahas dalam konsensus pada tanggal 7 Desember 2004 di Jakarta yang dihadiri oleh para anggota panitia teknis kimia hilir, konsumen, produsen dan lembaga pengujian dan juga instansi pemerintah terkait.

Oke itu pembukaan biar paham soal asal usul SNI. Terus bagaimana kualifikasi helm yang lolos SNI?

Pertama dari material:
Bahan helm harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. Dibuat dari bahan yang kuat dan bukan logam, tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 derajat Celsius sampai 55 derajat Celsius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultra violet, serta harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya

b. Bahan pelengkap helm harus tahan lapuk, tahan air dan tidak dapat terpengaruh oleh perubahan suhu

c. Bahan-bahan yang bersentuhan dengan tubuh tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan iritasi atau penyakit pada kulit, dan tidak mengurangi kekuatan terhadap benturan maupun perubahan fisik sebagai akibat dari bersentuhan langsung dengan keringat, minyak dan lemak si pemakai.

Kedua konstruksi:
Konstruksi helm harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Helm harus terdiri dari tempurung keras dengan permukaan halus, lapisan peredam benturan dan tali pengikat ke dagu,

b. Tinggi helm sekurang-kurangnya 114 milimeter diukur dari puncak helm ke bidang utama yaitu bidang horizontal yang melalui lubang telinga dan bagian bawah dari dudukan bola mata,

c. Keliling lingkaran bagian dalam helm adalah sebagai berikut:

UkuranKeliling Lingkaran Bagian dalam (mm)
SAntara 500 – kurang dari 540
M
Antara 540 – kurang dari 580
LAntara 580 – kurang dari 620
XL Lebih dari 620

d. Tempurung terbuat dari bahan yang keras, sama tebal dan homogen kemampuannya, tidak menyatu dengan pelindung muka dan mata serta tidak boleh mempunyai penguatan setempat

e. Peredam benturan terdiri dari lapisan peredam kejut yang dipasang pada permukaan bagian dalam tempurung dengan tebal sekurang-kurangnya 10 milimeter dan jaring helm atau konstruksi lain yang berfungsi seperti jaring helm.

f. Tali pengikat dagu lebarnya minimum 20 milimeter dan harus benar-benar berfungsi sebagai pengikat helm ketika dikenakan di kepala dan dilengkapi dengan penutup telinga dan tengkuk,

g. Tempurung tidak boleh ada tonjolan keluar yang tingginya melebihi 5 milimeter dari permukaan luar tempurung dan setiap tonjolan harus ditutupi dengan bahan lunak dan tidak boleh ada bagian tepi yang tajam,

h. Lebar sudut pandang sekeliling sekurang-kurangnya 105 derajat pada tiap sisi dan sudut pandang vertikal sekurang-kurangnya 30 derajat di atas dan 45 derajat di bawah bidang utama.

i. Helm harus dilengkapi dengan pelindung telinga, penutup leher, pet yang bisa dipindahkan, tameng atau tutup dagu.

j. Memiliki daerah pelindung helm
k. Helm tidak boleh mempengaruhi fungsi aura dari pengguna terhadap suatu bahaya. Lubang ventilasi dipasang pada tempurung sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan temperatur pada ruang antara kepala dan tempurung.

l. Setiap penonjolan ujung dari paku/keling harus berupa lengkungan dan tidak boleh menonjol lebih dari 2 mm dari permukaan luar tempurung.

m. Helm harus dapat dipertahankan di atas kepala pengguna dengan kuat melalui atau menggunakan tali dengan cara mengaitkan di bawah dagu atau melewati tali pemegang di bawah dagu yang dihubungkan dengan tempurung.


Seteruse......

Bharatayudha, simbol peperangan antara kebaikan dan keburukan...


Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi Mahabharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.
Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

Yudistira dalam masa penyamaran

Setelah 12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan Dropadi kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat persembunyian, mereka memilihKerajaan Matsya yang dipimpin oleh Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau Wirataparwa.

Yudistira menyamar dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai kusir kereta Raja Wirata. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak, Arjuna menjadi Wrihanala sebagai banci guru tari, Nakula menjadi Damagranti sebagai tukang kuda, Sadewa menjadi Tantripala sebagai penggembala sapi, sedangkan Dropadi menjadi Sailandri sebagai dayang istana.

Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa serangan kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil menghadapi pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil memukul mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.

Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.

Saat batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.



Jalannya pertempuran

Karena kisah Baratayuda yang tersebar di Indonesia dipengaruhi oleh kisah sisipan yang tidak terdapat dalam kitab aslinya, mungkin banyak terdapat perbedaan sesuai dengan daerah masing-masing. Meskipun demikian, inti kisahnya sama.

Babak pertama
Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma (Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja kerajaan Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti "gunung samudra."
Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada (pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka tewas seketika.
Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.

Babak Kedua
Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang).
Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi isma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut, Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Untuk menghormati Bisma, medan pertempuran pun digeser. Sambil menunggu saat dia mati, Bisma berbaring ditopang oleh panah2 yang menancap di tubuhnya. Satu-satunya satria yang bisa menentukan kematiannya adalah Bisma, ini diberikan dewa sebagai penghargaan atas keteguhan memegang sumpahnya.
Seteruse......

Perkenalan

Sebagai pembuka, monggo yang mau kasih komentar pada blog yang masih berumur detik ini.. Seteruse......